Tangerang Selatan - Implementasi Kurikulum Nasional pada setiap satuan pendidikan perlu disesuaikan dengan karakteristik murid dan konteks lokal. Karena itu, guru perlu mengadaptasi kurikulum sesuai kebutuhan serta potensi di sekolah tempatnya mengajar.
Di sejumlah daerah di Papua, ada murid yang beberapa hari tidak masuk sekolah karena ikut orang tua bekerja di kebun/ladang atau, di wilayah pesisir, melaut dan mencari ikan. Ini bukan masalah disiplin, melainkan bagian dari kehidupan. Guru memang sulit mencegah hal tersebut; di sinilah kreativitas guru diuji: bagaimana pengalaman itu diubah menjadi bahan belajar yang dekat dengan realitas murid.
Sebelum murid berangkat, guru dapat membekali kartu tugas satu lembar yang ditulis tangan. Isinya sederhana: apa yang diamati menggunakan 5W1H; hitungan mudah seperti jumlah hasil pekerjaan, lama waktu, serta perkiraan biaya atau pendapatan; kosakata lokal yang ditemui (nama alat, bahan, proses); dan bentuk bukti belajar yang tersedia (catatan, sketsa, foto, atau rekaman suara). Tekankan aspek keselamatan serta hormati adat/budaya. Murid boleh menulis menggunakan bahasa daerah terlebih dahulu; saat kembali, guru membantu mengalihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Tanpa gawai pun, catatan dan sketsa sudah cukup. Bila murid belum lancar baca-tulis, ia dapat menyiapkan bahan cerita lisan untuk disampaikan di kelas.
Setibanya di sekolah, adakan sesi “bawa pulang cerita” selama 15–20 menit. Guru kemudian menautkan cerita itu ke pelajaran: Bahasa Indonesia (menulis 1–3 paragraf melalui dikte atau bercerita di depan kelas); Matematika (menghitung total, selisih, atau rata-rata sederhana); IPA/IPS (menggambar urutan proses—misalnya menokok sagu, menjemur ikan, atau menanam ubi, serta alur pemasaran dari sumber ke pasar). Untuk kelas tinggi, mintalah satu ide perbaikan kecil yang realistis, misalnya: rak/alat pengering sederhana, pengolahan lahan, penataan bibit, atau analisis kendala yang dirasakan saat mendampingi orang tua. Dengan dukungan orang tua dan tokoh adat lokal, kegiatan ini aman dan pantas.
Penilaian dapat menggunakan rubrik ringkas: cerita jelas, angka masuk akal, ada kaitan dengan pelajaran, dan ada ide perbaikan. Ketidakhadiran karena membantu orang tua tidak dihukum; jadwal pengumpulan hasil belajar dibuat fleksibel mengikuti musim tanam atau melaut. Bukti belajar disimpan dalam map portofolio kelas. Dengan cara sederhana ini, murid terbiasa bercerita dan menulis, berani berhitung, peka terhadap alam serta budaya, dan tumbuh selaras dengan 8 dimensi profil lulusan. Belajar bisa dilakukan di mana saja; lebih fleksibel, menarik, dan membuat murid makin dekat serta mencintai daerahnya (AWS, 008-25).