Jakarta - Salah satu tantangan belajar pada jenjang SD di Papua adalah murid kelas rendah masih belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Penyebabnya beragam: bahan bacaan terbatas, guru belum mencukupi, dukungan orang tua yang berbeda-beda, hingga akses dan jarak sekolah. Namun tantangan ini bukan alasan untuk menyerah, justru kesempatan untuk menjalankan kurikulum yang diadaptasi pada konteks lokal, agar belajar terasa dekat dengan hidup anak.
Pengalaman baik datang dari seorang guru di SDN Rawawudo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Beliau tidak pasrah pada keadaan. Lingkungan dijadikan “buku pelajaran” terbuka, bahasa daerah dipakai sebagai jembatan ke Bahasa Indonesia, dan kelas dirancang sederhana, konkret, serta menyenangkan. Hasilnya, anak merasa aman mencoba, berani mengulang, dan pelan-pelan maju.
Pendekatannya sangat nyata. Saat belajar membaca, guru memulai dari benda akrab. Misalnya, ditunjukkan gambar ayam, lalu dieja A-Y-A-M sambil menyebut bunyinya. Untuk menulis, anak boleh menorehkan huruf di pasir atau tanah sebelum berpindah ke buku. Ketika berhitung, 2 + 3 tidak diajarkan dengan angka semata, melainkan dengan dua batu dan tiga batu yang digabung menjadi lima. Dari konkret menuju simbol; dari benda menuju angka; pelan, pasti, dan menyenangkan.
Agar tidak jenuh di kelas, anak kerap ditugaskan “berburu benda” di halaman sekolah. Saat IPAS, mereka mengamati tumbuhan atau hewan sekitar, menyebut nama lokalnya, menulis ciri sederhana, lalu menghitung jumlahnya. Rumus kecil yang mudah diingat: amati – sebut – tulis – hitung. Semua ini bisa dilakukan tanpa alat mahal; batu, daun, ranting, kulit kerang; apa yang ada, dapat menjadi media pembelajaran.
Dengan cara seperti ini, belajar menjadi lebih mudah, tidak membosankan, dan membuat anak makin mengenal lingkungannya. Keterbatasan media/bahan ajar bukan hambatan, melainkan pemicu kreativitas. Kuncinya ada pada ketekunan guru, latihan yang konsisten, serta kolaborasi dengan orang tua dan tokoh setempat. Dari hal-hal sederhana yang dekat dengan keseharian, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tumbuh alami; menguatkan pelaksanaan kurikulum yang benar-benar membumi di Papua (AWS, 009-25).